Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!

Pertanyaan yang patut kita ajukan pada bangsa ini adalah “Mengapa Bangsa Indonesia Masih Tetap Miskin dan Tertinggal dengan negara-negara lain, padahal dari sisi kekayaan alam tidak kalah dengan Bangsa lain. Bahkan boleh dikatakan kekayaan alam Indonesia sangat melimpah ruah. Jawabannya adalah karena sebagian besar dari kita masih bermentalkan “inlander”, sebagai warisan dari kolonoialisme yang meliputi bangsa ini selama berpuluh-puluh tahun. Walaupun secara formal bangsa ini sudah merdeka dan terbebas dari penjajahan, tetapi sejatinya secara ekonomi, politik kita masih dibawah bayang-bayang pengaruh asing. Itulah analisis yang dikemukakan Prof. Dr M Amien Rais dalam bukunya “Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!”.

Buku yang diterbitkan oleh PPSK Press ini dikatakan oleh banyak pembacanya sebagai buku yang membakar emosi atau bisa juga dikatakan sebagai “Angry Book”. Pak Amien Rais sendiri mengatakan memang buku ini adalah Angry Book, bagaimana tidak marah sebagai anak bangsa melihat kekayaan dan sumber daya alamnya dikeruk oleh bangsa asing tanpa reserve. Melihat bangsa dan negaranya seolah-olah tidak ada harganya di mata bangsa dan negara lain. Karena itulah beliau merasa perlu memberikan sedikit motivasi kepada seluruh elemen bangsa untuk menyadari dan bergerak menyelamatkan bangsa ini. Perlu kembali revitalisasi semangat nasionalisme seluruh elemen bangsa.

Sebagai bangsa yang mengalami penjajahan dalam waktu yang lama Nasionalisme bangsa ini belumlah dikatakan sempurna. Nasionalisme baru pada level permukaan belum pada substansinya. Sebagai contoh ketika Tim merah putih berlaga di event olahraga internasional, betapa gegap gempita dukungan dan pembelaan rakyat dan pejabat negara kita. Tetapi tidak ada gemanya pembelaan rakyat dan pejabat kita ketika aset-aset negara dicaplok oleh kekuatan kapitalis asing. Dicaplok karena memang sengaja ditawarkan oleh pemerintah kita untuk dicaplok asing.Ini sesungguhnya yang memprihatinkan dan perlu dibenahi bersama.

Globalisasi sebagai sebuah konsep yang ditawarkan kepada dunia, dalam kenyataannya hanyalah menguntungkan negara maju. Globalisasi menawarkan konsep bebasnya keluar masuk barang dan jasa di semua negara tanpa sekat negara. Dengan dalih bahwa kebebasan merupakan sesuatu yang mesti ditegakkan untuk menjamin tatanan dunia yang lebih baik. Akan tetapi negara dunia ketiga selalu menjadi pihak yang dirugikan. Negara maju selalu tidak adil atau curang dalam pelaksanaannya. Karena itulah konsep ini di negara asalnya sendiri (AS) banyak menuai kritik.

Kekuatan korporatokrasi yang mengurung Indonesia didukung oleh oleh korporasi besar, kekuatan politik, lingkaran militer, perbankan dan keuangan internasional, media massa dan intelektual pro kemapanan. Kesemua elemen korporatokrasi tersebut tidaklah bisa masuk ke negeri ini apabila pemerintah tidak memberi ruang untuk masuk. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya , elite nasional malah membuka jalan tol untuk masuknya mereka. Elite malah menjadi kompradror/pelayan kepentingan korporatokrasi tersebut. Sehingga bangsa ini menjadi subordinat korporatokrasi tersebut, sulit untuk menjadi negara yang memiliki kemandirian dan kemardekaan.

Dari hal-hal tersebut paling tidak ada lima hal yang diusulkan Amien Rais dalam menyelesaikan persoalan bangsa. Pertama, gagasan atau formulasi kepemimpinan alternatif atau transformatif. Kedua, negosiasi ulang kontrak kerja dan sharing di bidang migas dan nonmigas. Ketiga, kajian atas UU penanaman modal di bidang migas,kelistrikan, perairan dan pelayaran yang semuanya menguntungkan pihak asing. Keempat, membentuk ekonomi kerakyatan bukan konglomerasi. Kelima, dekonstruksi mental bangsa yang sedemikian korup tentang kondisi bangsa Indonesia. Selamat membaca buku ini…!

4 Responses to “Agenda Mendesak Bangsa Selamatkan Indonesia!”

  1. kambingkelir says:

    tinggal seberapa siapkah kita dalam menyikapi semua keadaan

  2. […] BBM bahkan menjadi agenda beberapa politisi yang dengan alasan tertentu akhirnya menyusun agenda mendesak menyelamatkan bangsa yang tentu sudah menjadi sebuah kebiasaan konflik yang terjadi yang mengakibatkan rakyat […]

  3. tukang says:

    Sesungguhnya kita semua sadar bahwa realitas yang dihadapi adalah sama. Cuma aksi dalam menghadapi realitas tersebut yang berbeda. Bagi kelompok A tentu bagaimana aksi itu bisa menguntungkan kelompoknya, kelompok B juga demikian. Belum ada aksi kolektif untuk kepentingan kolektif juga. Jadi kebersamaan dan kepentingan yang lebih besar belum terakomodasi.

Leave a Reply

You must be Logged in to post comment.

© 2014 tukangsapu.web.id |Knowledge Sharing. All rights reserved.
Proudly designed by Theme Junkie.